Diberdayakan oleh Blogger.

Leicester City, Sang Juara Baru

PA: PRESS ASSOCIATION

Apapun bisa terjadi dalam sepakbola, sebuah tim dengan skuad mentereng dengan kucuran dana yang sangat besar sekalipun tidak akan menjamin klub tersebut akan menjadi juara, bahkan tim kecil yang tidak diperhitungkan sekalipun justru bisa memberikan kejutan bahkan keluar sebagai juara ketika musim berakhir. Setidaknya itulah yang dilakukan oleh sebuah klub kecil yang memulai kompetisi dengan label calon terdegradasi namun akhirnya berhasil tampil konsisten hingga menjadi juara Premier League musim 2015/16, klub itu bernama Leicester City.

Di era sepakbola bergelimang uang seperti sekarang, apa yang sudah dilakukan Leicester terkait aspek finansial memang mengagumkan, dengan skuad seadanya perjuangan mereka jelas sangat pantas diapresiasi, mengingat di Premier League diisi klub-klub besar dan kaya dengan persaingan yang begitu ketat.

Sebenarnya ini bukanlah gelar pertama bagi Leicester, sejak didirikan 132 tahun silam, Leicester sudah pernah tujuh kali menjuarai liga divisi dua dan satu kali juara liga divisi tingkat tiga. Namun kali ini gelar yang mereka raih tentu sangat bergengsi yakni titel liga divisi teratas yang merupakan gelar  yang pertama buat mereka dalam kategori titel liga teratas. Sebelumnya, pencapaian terbaik mereka di level tertinggi liga Inggris adalah menjadi runner-up pada 1928/1929.
Gelar ini semakin terasa mengejutkan mengingat musim lalu Leicester harus berjuang keras untuk menyelamatkan diri dari jeratan degradasi, Leicester yang kala itu masih ditangani Nigel Pearson pada prosesnya finis di posisi 14 klasemen akhir.

Tim asuhan Claudio Ranieri ini mengunci gelar juara musim 2015/2016 ini dengan dua pekan tersisa. Setelah menjalani 36 pertandingan, Leicester mengumpulkan 77 poin hasil dari 22 kemenangan, 11 kali seri, dan cuma tiga kali kalah. Unggul tujuh angka dari pesaing terdekat mereka Tottenham Hotspurs.

Dengan catatan ini, Liga Inggris memunculkan juara baru setelah 38 tahun. Kali terakhir Liga Inggris dimenangi oleh sebuah tim yang baru pertama kali juara adalah pada musim 1977/78 ketika Nottingham Forest tampil sebagai juara. Sedangkan, bagi manajer Leicester, Claudio Ranieri, ini menjadi kali pertama dirinya mengantarkan tim yang dilatihnya menjuarai liga di level teratas kompetisi setelah sebelumnya hanya mengantarkan tim-tim seperti Chelsea, AS Roma, Juventus, dan AS Monaco menempati posisi runner up di Liga masing-masing yang kemudian membuatnya dijuluki sebagai spesialis Runner up. Uniknya lagi, mayoritas pemain yang mengisi skuad Leicester berisi para pemain yang “tersingkir” karena kerap bergonta-ganti klub atau dipinjamkan ke klub-klub lain oleh klub induk mereka. Mereka bjuga dilatih oleh seorang pelatih yang belum pernah menjuarai liga sekalipun.

Jika Blackburn Rovers meraih juara liga Inggris tahun 1995, bisa jadi karena Blackburn sudah menjadi klub kuat yang musim sebelumnya sudah berhasil finish sebagai runner-up. Namun, kisah Leicester musim ini bak cerita dongeng.  Musim lalu berada di dasar klasemen dan terancam degradasi, musim selanjutnya justru tampil mengesankan dan menjadi kampiun. Tidak hanya itu, Blackburn Rovers kala itu juga diperkuat oleh pemain bintang sekelas Alan Shearer dan Chris Sutton. Sedangkan Leicester? Diperkuat oleh nama-nama yang musim sebelumnya sangat asing ditelinga yang dalam jangka waktu setahun kemudian menjelma menjadi bintang, Vardy dan Mahrez adalah nama yang paling mencolok.

Sebuah klub kecil yang tak hanya mampu mengalahkan sesama klub kecil, bahkan juga mampu menaklukkan klub menengah bahkan klub besar secara konsisten. Tak ada resep rahasia dari perjalanan impresif mereka musim ini. Leicester cuma berbekal perjuangan, kerja keras, juga semangat pantang menyerah, setidaknya itu kekuatan yang dianggap menonjol dan membuat mereka begitu bersemangat disetiap pertandingan untuk meraih poin demi poin. Entah semangat seperti apa yang mereka semua miliki, entah latihan seperti apa yang mereka lakukan setiap hari,  dan entah pula apa yang disampaikan oleh Mister Claudio Ranieri di ruang ganti untuk terus membakar semangat kalian. Apapun itu, benang merahnya adalah betapa The Foxes mematahkan prediksi banyak orang dan tampil mengejutkan sepanjang musim.
Tak sabar rasanya menunggu aksi Leicester City musim depan, tak hanya di Premier League tapi juga kompetisi bergengsi lainnya yang akan turut serta mereka jalani yakni Liga Champions Eropa yang benar-benar akan menguji kekuatan mereka sesungguhnya.

**
Dikutip dari berbagai sumber

0 komentar:

Posting Komentar