Diberdayakan oleh Blogger.

IDEALNYA 3-4-1-2

3-4-1-2 adalah formasi paling ideal. Setidaknya itu menurut saya. Dan saya rasa orang yang tidak setuju dengan opini ini akan sangat banyak dibanding mereka yang setuju, bahkan mungkin mereka yang setuju hanya bisa dihitung dengan jari. Tapi namanya juga opini, semua orang punya hak untuk menyatakan pendapatnya. Dulu sekali waktu saya masih remaja dimana saya sangat gemar membaca analisa-analisa tentang pertandingan sepakbola melalui beberapa majalah dan tabloid yang biasanya dibelikan oleh ibu saya tercinta, formasi dengan 3 bek adalah yang paling menjadi idola. Jika mendengar istilah tiga bek, yang langusng terbayang adalah formasi 3-5-2. Tidak salah memang, karena formasi ini memang yang paling identik dengan formasi yang menggunakan tiga orang pemain belakang. 2 formasi yang paling sering digunakan pada sebuah tim saat bertanding kala itu adalah formasi 3-5-2 (terutama di Indonesia) dan formasi 4-4-2.

Seiring berkembangnya jaman formasi tiga bek semakin jarang terlihat di sepakbola modern sekarang ini Ketika kita membicarakan sepakbola modern, beberapa hal yang paling terkait adalah sepakbola menyerang, penguasaan bola atau mendominasi jalannya pertandingan. Hal penting lain yang dianggap penting dalam sepakbola modern ini adalah transisi. Transisi yang dimaksud tentu saja
dari bertahan ke menyerang dan dari menyerang ke bertahan. Tapi entah darimana asalnya, sepakbola modern akhirnya diidentikkan dengan formasi yang menggunakan empat orang pemain belakang. Secara umum, hampir semua tim di masa kini memakai formasi empat bek. Jika tujuannya adalah untuk mendominasi pertandingan dan memaksimalkan transisi, sebenarnya skema 3-5-2 justru bisa lebih efektif.

Diera sepakbola modern pun sebenarnya formasi tiga bek bukan benar-benar hilang, formasi tiga bek terbukti masih bisa bersaing di era sepakbola modern. Juventus yang pada tahun lalu berhasil menembus final liga champion sempat beberapa kali menggunakan skema tiga bek, meski akhirnya gagal meraih juara. Bahkan jika kita mundur kebelakang sedikit lagi, ketika Antonio Conte membawa Juventus mendominasi empat musim Serie A  dengan sepakbola menyerang menggunakan skema tiga bek yakni 3-5-2. Pep Guardiola di Bayern Muenchen sempat beberapa kali mencoba skema 3 pemain de belakang. Pepdiantaranya sudah pernah mencoba formasi 3-4-2-1,  3-1-4-2, 3-4-1-2, dan 3-3-3-1 di Bayern Muenchen.

Dibeberapa situasi skema tiga bek memang tidak cukup kuat untuk membendung tim lawan yang memakai empat bek, terlebih lagi juga memakai pemain sayap. Area sayap tentu menyediakan lubang yang besar yang dapat dengan mudah dieksploitasi oleh pemain sayap dan fullback tim lawan, karena hanya satu wing bek yang bertugas diarea tersebut. Secara teori, ruang kosong ini seharusnya segera diisi oleh pemain sayap tengah yang ikut turun ke belakang ketika tim mendapatkan serangan. Namun pada kenyataannya, seringkali pemain sayap  ataupun gelandang bertahan yang ditugaskan menutup lubang tersebut sering kalah cepat dengan pemain sayap lawan dan terkadang juga terlambat turun membantu pertahanan.

Ada beberapa varian dari skema tiga bek yang bisa kita temui, diantaranya 3-2-2-3, 3-3-1-3, 3-3-3-1, 3-4-3 , 3-4-2-1, 3-4-1-2 dan beberapa varian lainnya. Dari kesekian varian itu saya memilih 3-4-1-2 sebagai yang paling ideal. Dan angka 1 dalam formasi tersebut akan semakin terasa istimewa jika diisi oleh seorang playmaker terbaik dunia asal Prancis bernama Jinedine Jidane. Dialah yang paling cocok untuk mengisi posisi tersebut, dengan Joman Roman Riquelme sebagai pelapisnya.

Skema tiga bek mungkin memang akan terlihat kurang kokoh dalam bertahan jika dibandingkan dengan skema empat bek. Namun, skema tiga bek menawarkan kelebihan lain, yaitu sirkulasi bola yang menjadi lebih baik ketika mendominasi pertandingan dengan menguasai ball posession ingin didapatkan. Hal lain yang memungkinkan dilakukan dalam formasi 3-4-2-1 adalah pemain belakangpun bisa turut serta berperan untuk membantu sirkulasi bola. Seorang bek modern dituntut tidak hanya bagus dalam melakukan tackling, tetapi juga harus bagus dalam melakukan berbagai jenis umpan. Dengan demikian jumlah pemain yang terlibat dalam sirkulasi bola menjadi lebih banyak, tak melulu gelandang saja. Semakin luas area dimana bola dimainkan, maka tim tersebut akan semakin dekat dengan ball possession sekaligus akan mempersulit usaha lawan untuk melakukan pressing, sebagaimana yang sering diperagakan dalam taktik tiki-taka ala Barcelona. Pada kenyataannya, formasi tiga bek sekarang justru lebih anti mainstream daripada formasi empat bek sebagai aplikasi sepakbola modern.

Dua orang gelandang tengah, satu berperan sebagai pemain jangkar atau gelandang bertahan dan satu lagi sebagai attacking midfielder akan memberikan keseimbangan dalam permainan. Sang gelandang bertahan akan merusak permainan lawan dan terus berusaha merebut bola dan mengganggu pemain lawan sebelum memasuki area pertahanan tim. Sedangkan sang gelandang serang bertugas sebagai penghantar antara lini depan dan lini belakang. Dua orang pemain sayap akan dapat membongkar dan mengeksploitasi pertahanan lawan dengan menyisir masing-masing sisi lapangan. Ini memungkinkan dua orang pemain sayap tersebut melakukan umpan-umpan crossing yang memanjakan untuk striker yang sudah menunggu diarea kotak penalty lawan. Opsi lain si pemain sayap bisa melakukan penetrasi dan tusukan-tusakan untuk membongkar pertahanan lawan. Sedangkan angka satu dalam skema 3-4-1-2 berperan mengatur permainan. Seorang playmaker dengan skill mumpuni dan visi bermain yang bagus tentu dibutuhkan untuk mengisi poisisi ini. Mengatur tempo permainan dan bagaimana pertandingan akan berjalan sangat bergantung pada playmaker yang berposisi sebagai second striker ini, karena berada tepat dibelakang dua striket murni. Dan dua striker didepan akan dapat memaksimalkan peluang mencetak gol, dibanding skema yang hanya memasang seorang target man didepan. Setidaknya itu opini saya.

0 komentar:

Posting Komentar